Pedang Allah Yang Terhunus: Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘Anhu

 

Khalid Setelah Masuk Islam
 
Khalid ikut dalam perang bersama kaum muslimin untuk pertama kalinya dalam Perang Mu’tah melawan Gassasanah dan Romawi. Dalam perang tersebut tiga orang panglimanya mati syahid. Mereka adalah Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawwahah. Maka dengan cepat Tsabit bin Arqam mengangkat tinggi-tinggi bendera komando. Kemudian dia mendatangi Khalid sembari berkata, “Ambillah bendera ini wahai Abu Sulaiman.” Khalid merasa dirinya bukanlah orang yang berhak mengambil bendera itu, maka dia menolak sembari berkata, “Aku tidak akan mengambil bendera, engkau lebih berhak mengambilnya, karena engkau lebih tua dan telah ikut dalam Perang Badar.”
Tsabit menjawab, “Ambillah, karena engkau lebih tahu dan berpengalaman tentang peperangan dibanding aku. Demi Allah, Aku tidak mengambilkan bendera itu kecuali untukmu.” Kemudian dia berteriak di antara kaum muslimin, “Apakah kalian rela kepemimpinan Khalid?” Mereka men­jawab serempak, “Ya.”
Lalu Khalid mengambil bendera itu, dan bersamanya Allah menyelamatkan tentara muslimin. Khalid berkata, “Aku telah mematahkan sembilan pedang. Tidak ada yang tidak patah di tanganku selain pedang dari Yaman (Jenis pedang yang lebar mata pedangnya).”
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar kabar dari para sahabat tentang perang itu, beliau berkata, “Zaid telah mengambil bendera itu kemudian dia terbunuh, lalu Ja’far mengambil bendera, dia juga terbunuh, dan setelah itu Ibnu Rawwahah mengambil bendera itu, tapi dia juga terbunuh -Nabi berkata dengan berlinang air mata-, sampai akhirnya bendera diambil oleh salah seorang pedang Allah, sehingga Allah membuka hati mereka.”
Maka setelah hari itu Khalid bin Walid dijuluki Saifullah (Sang Pedang Allah).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memerintahkan Khalid untuk memimpin salah satu pasukan Islam yang bergerak untuk membuka Makkah. Beliau juga menggunakannya untuk menangkap secara rahasia Ukaidar, raja di Daumatul Jandal, pada saat Perang Tabuk.
Khalid juga berada di barisan paling depan tentara muslimin pada Perang Hunain di Bani Sulaim. Pada waktu itu dia terluka, sehingga Rasulullah memintanya kembali. Namun dia tidak mempedulikan lukanya itu. Lalu Beliau mengirim Khalid kepada Ukaidar bin Abdul Malik, raja Daumatul Jandal. Dia menawan raja itu dan membawanya ke hadapan Rasulullah. Kemudian raja itu sepakat untuk membayar jizzah, lalu dia diperkenankan pulang ke negaranya.
Pada tahun ke sepuluh, Khalid dikirim oleh Rasulullah ke Bani Harits bin Ka’ab bin Madzhij. Kemudian beberapa orang dari mereka datang bersama Khalid kepada Rasulullah. Lalu mereka masuk Islam. Setelah itu mereka kembali kepada kaum mereka di Najran.

Perannya dalam Memerangi Orang-orang Murtad

Setelah Nabi wafat, khalifah Abu Bakar :memerintahkan Khalid bin Walid untuk memerangi orang-orang murtad. Pertama kalianya dia dan pasukannya menghadapi seorang wanita Sujah yang mengaku Nabi, kemudian Musailamah Al-Kadzdzab, yang merupakan orang yang paling berbahaya dalam mengaku-ngaku Nabi. Karena dia memiliki banyak pengikut dan tentara. Terjadi pertempuran yang sengit antara kedua belah pihak, yang berakhir dengan kekalahan Bani Hanifah dan terbunuhnya Musailamah. Dalam pertempuran itu Malik bin Nuwairah yang dituduh murtad juga terbunuh. Namun orang-orang berbeda pendapat mengenai terbunuhnya Malik bin Nuwairah. Dikatakan bahwa dia terbunuh dalam keadaan Islam karena salah sangka Khalid saja dan perkataan yang didengar darinya. Akan tetapi Abu Qatadah mengingkarinya dan dia bersumpah bahwa dia tidak berperang di bawah panjinya. Dan Umar bin Khathab juga mengingkari hal itu.

Perannya Dalam Membuka Negara Persia

Setelah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menyelesaikan urusan orang-orang yang murtad -yang hampir saja memecah belah umat dan Islam, khalifah pertama ini mengarahkan pandangannya ke Irak. Dia ingin mengamankan batas wilayah pemerintahan Islam, dan menghancurkan kekuatan Persia yang mengintai Islam di sana.
Khalid bin Walid adalah komandan di barisan paling depan yang dikirim Abu Bakar untuk melaksanakan misi ini. Dalam misi ini Khalid mampu mendapatkan banyak kemenangan atas Persia, dia terus merangsek maju sehingga pembukaannya mencapai sebagian besar dari daerah Irak. Kemudian dia mengerahkan pasukannya menuju Anbar untuk dibukanya. Tetapi penduduk Anbar sangat kuat penjagaannya. Di sekeliling daerah itu dibuat parit atau galian besar yang sulit dilewati. Namun Khalid tidak kehilangan akal, dia perintahkan tentaranya untuk memanah mata tentara penjaga parit. Sehingga kurang lebih seribu mata mereka terluka. Kemudian dia sengaja menyembelih onta yang lemah dan kurus, lalu menjatuhkannya di dalam parit yang jaraknya paling sempit sehingga menjadi jembatan yang bisa dilewati olehnya dan pasukan berkuda Muslimin di bawah derasnya panah yang dilepaskan para pemanahnya untuk melindungi mereka dari para musuh yang mengintai mereka dari atas tembok benteng yang tinggi dan kokoh. Ketika panglima Persia melihat apa yang dilakukan Khalid dan tentaranya maka mereka minta berdamai. Dan jadilah Anbar dalam genggaman kaum muslimin.
Kemudian Khalid dan pasukannya menuju Ainut Tamar dimana orang-orang Persia banyak berkumpul di sana dan mendapat bantuan dari beberapa kabilah Arab. Ketika pasukan Khalid yang ada di barisan terdepan tiba, orang­-orang itu melarikan diri, dan sebagian dari mereka mengungsi ke benteng. Khalid dan pasukannya mengepung benteng sampai akhirnya mereka yang ada di dalamnya menyerah. Kemudian Khalid menunjuk Uwaim bin Kahil Al-Aslami sebagai penanggung jawab Ainut Tamar. Setelah itu Khalid dan pasukannya menuju Daumatul Jandal dan membuka daerah itu.

Perannya dalam Membuka Negara Syam (Syiria)

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bermaksud mengarahkan penaklukkannya ke Syam setelah Khalid bin Walid berhasil menancapkan kakinya di Irak dan kemenangannya yang besar atas Persia. Khalid merupakan panglimanya yang telah melempar para musuhnya dimanapun tempat. Sehingga dia berkata mengenai panglimanya itu, “Sungguh, Romawi akan melupakan gangguan setan disebabkan Khalid bin Walid.”[5] Khalid tidak mengecewakan dugaan Abu Bakar ini, karena dia mampu sampai di Syam dalam waktu yang sebentar untuk menolong kaum muslimin di sana setelah dia menempuh jalan pintas melalui gurun pasir Samawah.
Sebelum sampai di Syam, Khalid bin Walid mengumpulkan tentara Muslimin di bawah satu bendera agar mereka mampu menghadapi dan melawan musuh mereka. Khalid mengatur ulang formasi tentara. Dia membagi tentara menjadi beberapa batalion supaya tampak banyak di mata musuh. Dia jadikan setiap komandan pasukan kaum Muslimin pimpinan sejumlah batalion. Dia menempatkan Abu Ubaidah di tengah dengan membawahi delapan belas batalion. Bersamanya Ikrimah bin Abu Jahal dan Qa’qa’ bin Amru. Dia menempatkan Amr bin Ash di sebelah kanan dengan membawahi sepuluh batalion. Dia ditemani oleh Syurahbil bin Hasanah. Kemudian dia tempatkan Yazid bin Abu Sufyan di sebelah kiri membawahi sepuluh batalion.
Pasukan Muslimin dan pasukan Romawi bertemu di lembah Yarmuk. Pasukan Muslimin menyerang pasukan Romawi dengan serangan yang dahsyat. Mereka mendapat keberuntungan, hingga akhirnya mendapatkan kemenangan. Sebelum peperangan, terdengar kabar bahwa Khalifah Abu Bakar wafat dan khalifah digantikan oleh Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Khalifah kedua ini mengirimkan surat kepada Abu Ubaidah bin Jarah yang berisi perintah untuk memimpin tentara menggantikan Khalid. Karena orang-orang telah terpesona oleh Khalid sehingga mereka berprasangka bahwa kemenangan tidak akan dapat diraih kecuali di bawah kepemimpinannya, maka Abu Ubaidah lebih mengutamakan untuk menyembunyikan surat itu sampai berakhirnya peperangan, yang berakhir dengan kemenangan di bawah kepemimpinan Khalid. Dalam peperangan ini kurang lebih tiga ribu pasukan Muslimin yang menjadi syuhada. Di antara mereka terdapat banyak dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Peranan Khalid tidak berhenti sampai di sini, meskipun Khalifah Umar bin Khathab menggantikan dia dengan Abu Ubaidah sebagai pemimpin pasukan. Tetapi dia terus berperang di tengah barisan kaum Muslimin dan masuk di dalam barisan pasukan berkuda. Dia termasuk pahlawan perang yang tidak tertandingi dalam sejarah.
Khalid punya peran utama dalam membuka Damaskus, Homsh, dan Qinnisrin. Dan dia tidak menjadi lemah menjadi salah satu tentara kaum muslimin setelah sebelumnya menjadi panglima dan pimpinan mereka. Karena tujuan utama yang ingin diraihnya adalah berjihad di jalan Allah, yang senantiasa dia lantunkan di manapun tempat dan kondisi.
Songkok Khalid bin Walid
Di songkok Khalid bin Walid -yang dia gunakan dalam berperang- terdapat beberapa helai rambut Rasulullah dimana Khalid selalu minta pertolongan dan berkahnya. Karenanya, dia selalu diberi kemenangan. Kisahnya pada saat haji Wada’, ketika Rasulullah memotong rambutnya, Nabi memberikan kepada Khalid beberapa helai rambut di dahi beliau. Lalu Khalid memasangnya di depan ujung songkoknya. Ketika songkok itu terjatuh pada Perang Yarmuk, dia mencarinyanya dengan sekuat tenaga dan orang-orang pun ikut serta mencarinya; ketika Khalid dicela karena hal itu, maka dia berkata, “Sesungguhnya di songkok tersebut terdapat beberapa helai rambut Rasulullah dan aku selalu berharap baik dan minta pertolongan dengannya.”

Perkataan Khalid bin Walid Sebelum wafatnya

Khalid bin Walid meninggal di Homsh pada tanggal 18 Ramadhan tahun 21 Hijriyah bertepatan dengan 20 Agustus 642 Masehi. Ketika kematian hendak menjemputnya, dari kedua matanya mengalir air mata yang panas karena sangat sedih. Air matanya keluar bukan karena dia takut dengan kematian; karena selama ini dia menghadapi kematian dengan ketajaman pedangnya di setiap peperangan, dia membawa nyawanya di atas ujung tombaknya. Akan tetapi kesedihan dan tangisannya dikarenakan dia sangat merindukan perang; dia merasa tersiksa karena harus mati di atas ranjangnya. Padahal selama ini dia selalu mendatangi medan-medan peperangan dan menjadikan hati para musuh gemetar dan ngeri karena sepak terjangnya, dan bumi di bawah kaki mereka terasa berguncang. Perkataan terakhir Khalid mengungkapkan rasa sedih dan sesalnya seperti ini, “Aku telah datang di banyak peperangan, dan aku hanya menginginkan sayatan pedang di tubuhku, lemparan panah, atau tusukan tombak. Jika aku mati di atas ranjangku, maka seperti matinya seekor onta, dan mata orang-orang takut tidak akan tidur.” [6]
Dan, ketika Khalifah Umar bin Khathab mendengar berita wafatnya, dia berkata, “Biarkan para wanita Bani Makhzum menangisi Abu Sulaiman, karena sesungguhnya mereka tidak berdusta, sesungguhnya orang seperti Abu Sulaiman akan ditangisi oleh siapa pun.”

Foot Note:
[5] Ath-Thabari, Tarikh Ar-Rusul wal Muluk (3/408)
[6] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah (7/129)
Sumber: Dikutip dari ‘Para Penakluk Muslim Yang Tak Terlupakan’, Tamir Badar, Pengantar: Dr.Raghib As Sirjani, Penerbit al Kautsar

[+/-] Lengkapnya...

Tulang Ekor (Sulbi) Manusia dan Hadist Nabi Muhammad S.A.W

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Sahabat tahu tulang sulbi manusia? Ya, itu tulang yang berada pada setiap manusia. Sahabat mau tahu seperti apa? Coba dilihat di bawah ini: 

 Tulang sulbi atau dengan bahasa Inggrisnya adalah Coccyx ini adalah bagian tulang dari tubuh manusia. Terletak pada bagian terbawah dari tulang belakang. 

Tulang sulbi ini adalah tulang yang pertama kali ketika manusia diciptakan oleh Allah. Dari tulang inilah nantinya manusia dibangunkan pada hari akhir. Hebatnya lagi tulang sulbi ini tak akan hancur dimakan tanah. 

Tulang sulbi sering disebutkan dalam hadits yaitu, dari Abu Huairah Nabi bersabda, “Sesungguhnya bagian tubuh manusia akan rusak, kecuali “tulang sulbi”, dari tulang ini pertama kali manusia diciptakan, dan dari tulang ini manusia dibangunkan dari kematian di hari akhir” (HR. Bukhari, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah)

 Dan ada satu lagi hadits tentang tulang sulbi ini:

 Dari Abu Huairah Nabi bersabda, “Ada satu tulang yang tidak akan dimakan tanah. Mereka bertanya,”tulang apa ya Rasul?” Nabi menjawab” Tulang Sulbi”. (HR. Bukhari, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah)

Fakta, bahwa hadits ini benar, seorang dokter yang berama Dr. Othman Al-Djilani dan syaikh Abdul Majid melakukan sebuah eksperimen terhadap tulang sulbi ini. Pada bulan Ramadhan 1423 atau sama dengan 2002 di tahun Masehi di Yaman. 

Mereka berdua memanggang tulang punggung berikut juga dengan tulang sulbi. Dengan gas selama 10 menit hingga sampai benar-benar terbakar (tulang-tulang berubah menjadi mereha kemudian menghitam).

Kemudian mereka berdua meletakkan potongan-potongan yang telah gosong itu pada kotak steril. Kemudian kotak steril itu mereka bawa ke labolatorium analisa terkenal di Sanaa, Yaman. Nama labolatorium itu adalah (Al Olaki Labolatory) –> Oke, tak perlu dihapal, tidak ada dalam UN kok. Hehe 

Dr. Al Olaki, juga merupakan seorang professor di bidang histologi dan pathologi di Sanaa University, di Yaman. Ia menganalisa hasil potongan-potongan tulang tersebut dan menemukan bahwa sel-sel pada jaringan tulang sulbi (coccyx) dapat bertahan terhadap pembakaran. 

Ternyata hanya sel-sel otot, sumsum, dan jaringan lemak saja yang terbakar. Sementara sel-sel tulang sulbi tidak terpengaruh. Percobaan yang diatas ini membuktikan bahwa, hadits itu benar. Tulang sulbi akan tetap akan. Tak dimakan tanah, tak hancur terbakar, tahan pada kondisi apapun. SubhanaAllah bukan? Itulah, hebatnya Allah. 

Jika kita gali ilmu-ilmu-Nya betapa kecilnya kita ini dihadapan Allah. Dunia saja ibarat butiran-butiranpasir. Bagaimana dengan kita yang lebih kecil daripada bumi? Sungguh Allah itu maha besar maha mengetahui. 

1400 tahun yang silam Nabi sudah bersabda tentang tulang sulbi ini. Sudah terbukti hingga sekarang! So, kenapa harus ragu sama Allah ?

[+/-] Lengkapnya...

Kisah Menakjubkan Ummu Sulaim Saat Ditinggal Mati Anaknya

Berikut adalah kisah Ummu Sulaim (nama asli: Rumaysho atau Rumaisa) yang menakjubkan di mana ia begitu bersabar saat ditinggal mati anaknya. Lihat kisah ini dan gali pelajaran menarik di dalamnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ يَشْتَكِى ، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ ، فَقُبِضَ الصَّبِىُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِى قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ . فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارِ الصَّبِىَّ . فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ « أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا » . فَوَلَدَتْ غُلاَمًا قَالَ لِى أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِىَ بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَتَى بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ ، فَأَخَذَهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَمَعَهُ شَىْءٌ » . قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ . فَأَخَذَهَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَضَغَهَا ، ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِى فِى الصَّبِىِّ ، وَحَنَّكَهُ بِهِ ، وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ .

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa putera Abu Tholhah sakit. Ketika itu Abu Tholhah keluar, lalu puteranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh puteraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya, ia pun menyantapnya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, istrinya mengatakan kabar meninggalnya puteranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.”
Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Sulaim juga menitipkan membawa beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengambil anak tersebut lantas berkata, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan ‘Abdullah. (HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144).
Dalam riwayat Muslim disebutkan,

عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَاتَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لأَهْلِهَا لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ – قَالَ – فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ – فَقَالَ – ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا قَالَتْ يَا أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ قَالَ لاَ. قَالَتْ فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ فَغَضِبَ وَقَالَ تَرَكْتِنِى حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِى بِابْنِى. فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِى غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا ». قَالَ فَحَمَلَتْ

Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Tholhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Tholhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.” Diceritakan bahwa ketika Abu Tholhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Tholhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” Abu Tholhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?” Abu Tholhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi.  (HR. Muslim no. 2144).
Kisah di atas menunjukkan keutamaan sahabat Ummu Sulaim. Dari kisah di atas kita bisa melihat bagaimana kuatnya kesabaran Ummu Sulaim atau Rumaysho, sungguh ia begitu penyabar. Sampai-sampai ketika puteranya meninggal dunia pun, ia bisa bersabar seperti itu. Ketika dapat musibah kala itu, ia tetap melayani suaminya seperti biasa, bahkan ia pun berdandan begitu istimewa demi memuaskan suaminya di ranjang. Tatkala suaminya puas, baru ia kabarkan tentang kematian puteranya. Subhanallah … Sungguh kesabaran yang luar biasa.

Beberapa faedah lainnya dari kisah di atas:
1- Dianjurkan istri untuk berhias diri untuk suaminya dengan dandan yang istimewa. Namun yang terjadi di kebanyakan wanita saat ini, mereka hanya mau berdandan ketika di depan orang banyak saat keluar rumah, bukan di hadapan suaminya. Cobalah ambil teladan dari kisah Rumaysho di atas yang ia masih mau berdandan cantik walau sedang dirundung duka.

2- Istri harus bersungguh-sungguh dalam berkhidmat pada suami dan membantu mengurus hal-hal yang bermasalahat bagi suami seperti yang dilakukan Ummu Sulaim pada suaminya dengan menyediakan makan malam.

3- Mustajabnya do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mendo’akan keberkahan bagi malam Ummu Sulaim dan Abu Tholhah, akhirnya mereka pun dikaruniai lagi seorang anak.

4- Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah ganti dengan yang lebih baik. Lihatlah Ummu Sulaim begitu ridho dan penyabar dengan ketentuan Allah sehingga ia pun dikaruniai putera yang dinamakan ‘Abdullah. Bahkan dari ‘Abdullah inilah lahir sembilan keturunan yang kesemuanya para penghafal Al Qur’an sebagaimana disebutkan dalam riwayat lainnya. Bahkan mereka menjadi para ulama sebagaimana disebutkan Imam Nawawi rahimahullah.

5- Disunnahkan ridho terhadap takdir yang terasa pahit.

6- Sesuatu yang bisa menguatkan sabar adalah dengan seseorang mengenal dirinya sendiri bahwasanya ia berasal dari sesuatu yang tidak ada. Manusia adalah milik Allah. Yang manusia miliki hanyalah titipan dari Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil.

7- Disunnahkan melakukan tahnik dengan mengunyah kurma dan dimasukkan dalam langit-langit mulut bayi. Hal ini juga disunnahkan berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama. Lalu siapakah yang melakukan tahnik, bisa ditelusuri di sini.

8- Disunnahkan memberi nama pada si buah hati pada hari lahirnya.

9- Disunnahkan memberi nama yang terbaik bagi anak dan sebaik-baik nama adalah ‘Abdullah.

10- Boleh meminta orang sholih untuk memberikan nama pada anak.

11- Hendaknya memberi kabar kematian pada orang lain dengan lemah lembut.

12- Boleh menggunakan kata-kata kiasan yang seolah-olah mengandung dusta ketika hajat (dibutuhkan).

Semoga Kisah Nyata Diatas Menjadi Hikmah dan Pelajaran Bagi Kita Semua.. Amin 

[+/-] Lengkapnya...

Kisah Semut Yang Tawakkal

KISAH TELADAN DARI SEEKOR SEMUT YANG BERIMAN

Tawakkal Semut di Batu
Di zaman Nabi Sulaiman terjadilah suatu peristiwa, waktu itu Nabi Sulaiman melihat seekor semut melata di atas batu; lantas Nabi Sulaiman merasa takjub dan heran bagaimana semut tersebut bisa bertahan hidup di atas batu yang kering di tengah-tengah padang pasir yang gersang dan tandus. Nabi Sulaiman pun bertanya kepada semut itu: “ Wahai semut bagaimana cara kamu dapat makanan? Apakah kamu yakin bisa memperoleh makanan yang cukup untuk kamu bisa bertahan hidup”.


Semut pun menjawab: “Rezeki di tangan ALLAH, aku percaya rezeki di tangan ALLAH, aku yakin di atas batu kering di padang pasir yang tandus seperti ini pun pasti tersedia rezeki untuk ku”. Lantas Nabi Sulaiman pun bertanya: ” Wahai semut, seberapa banyakkah engkau makan? Jenis makanan apakah yang engkau sukai? Dan berapa banyak makanan yang engkau makan dalam satu bulan?”

Jawab semut: “Aku makan hanya sekadar sebiji gandum setiap satu bulan”.

Nabi Sulaiman pun kemudia berkata: “Kalau kamu makan hanya sebiji gandum sebulan tidak lah sulit bagimu melata di atas batu, aku bahkan bisa membantumu”. Nabi Sulaiman pun mengambil sebuah kotak, dia angkat semut itu dan dimasukkan ke dalamnya; kemudian Nabi mengambil gandum sebiji, dibubuhkan kedalam kotak dan kemudian di tutup lah kotak tersebut.

Kemudian Nabi meninggalkan semut di dalam kotak yang tertutup dengan sebiji gandum didalamnya untuk jatah makanan semut selama satu bulan. Akhirnya satu bulan kemudian Nabi Sulaiman kembali untuk bertemu dan melihat keadaan sang semut. Terlihatlah gandum yang sebiji hanya dimakan setengah saja oleh si semut, lantas Nabi Sulaiman berkata dengan suara yang meninggi: “Kamu rupanya berbohong padaku! Bulan lalu kamu katakan kamu makan sebiji gandum sebulan, ini sudah sebulan lewat tapi kamu hanya makan setengahnya”.
Jawab semut: “Aku tidak berbohong, aku tidak berbohong, kalau aku ada di atas batu aku pasti makan apapun sehingga banyaknya sama seperti sebiji gandum untuk satu bulan, itu karena makanan yang aku cari sendiri dan rezeki itu datangnya dari Allah dan Allah tidak pernah lupa padaku. Tetapi bila kamu masukkan aku dalam kotak yang tertutup, rezekiku bergantung padamu dan aku tak percaya kepada mu, itulah sebabnya aku makan setengah saja supaya tahan dua bulan. Aku takut kamu lupa…”.

Akhirnya Nabi Sulaiman tersenyum dan mengerti dengan penjelasan semut tersebut… 

The Moral Behind of the Story:
Demikianlah seekor semut sahabat Nabi Sulaiman telah mengajarkan kita makna hakiki sebuah kemerdekaan, sebuah kemandirian. Kebebasan yang sejati adalah manakala kita hanya menggantungkan keyakinan diri kita hanya kepada Tuhan sang Khalik, Sang Pencipta. Dan tidak menggantungkan diri kita kepada selain Nya, yang bernama makhluk, yang diciptakan.

Inilah harga diri yang mesti kita tanamkan, inilah martabat dan kemulyaan orang yang beriman. Dengan keyakinan tersebut sejarah mencatat peradaban umat manusia telah ditulis dengan tinta emas betapa kemulyaan perjuangan para Nabi yang diwariskan kepada umat manusia. Inilah prinsip perjuangan seluruh Nabi untuk menundukkan diri hanya kepada Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi Nya.
Dalam Agama telah sangat jelas disebutkan bahwa manusia yang merdeka, manusia yang mempunyai jiwa yang lapang adalah manusia yang sholatnya, ibadahnya, hidupnya, serta matinya hanya untuk Allah semata. Sesungguhnya inilah makna yang sebenarnya dari konsepsi keesaan Tuhan.

Manakala setiap tutur kata dan tingkah laku kita senantiasa terjaga dari hal yang sia-sia, terjaga dari keburukan, karena dalam diri telah tertancap keyakinan bahwa segala perkataan dan perbuatan kita senantiasa diawasi oleh Allah tanpa satu detikpun terlewatkan. Bahkan niat kita yang masih didalam hatipun Allah mengetahui. Sehingga dari keyakinan tersebut, timbul kesadaran untuk mendedikasikan hidup dan kehidupan kita karena Allah semata.
Sebagai seorang beriman tidak perlu ada keresahan, kegalauan, atau ketakutan dalam diri. Sesungguhnya Allah Maha Benar, Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kelaparan atau apapun permasalahan yang dihadapi manusia bukanlah bentuk kebencian atau ketidak pedulian Allah. Karena Tuhan tak pernah menganiaya hambanya, Dia tidak mungkin berbuat zalim.

Inilah prinsip dan keyakinan Ilahiah yang mesti ada dalam diri-diri setiap insan, laksana akar dari pohon yang membuat kokoh dan akan menghasilkan buah yang bisa dinikmati sekaligus tempat berteduh banyak orang. Laksana Pondasi sebuah bangunan yang menopang sebuah gedung, menopang manusia yang tinggal diatasnya, memberikan perlindungan dan keamanan terhadap panas, hujan, angin bahkan gempa.
Sekiranya diantara kita ada yang masih menganggur belum bekerja jangan pernah berputus asa, karena rezeki bukan hanya dengan cara bekerja pada suatu perusahaan. Sekiranya anda belum dapat melanjutkan sekolah, jangan pernah pesimis dengan masa depan karena kebahagiaan dapat ditempuh dengan berbagai cara. Sekiranya diantara kita ada yang sakit, pantang menyerah untuk berobat dan bersabar karena Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan amal dan upaya kita.

Ketika segenap permasalahan menimpa seseorang, itulah cara Allah menguji keimanan hamba-Nya. Saat permasalahan yang datang bertubi-tubi dihadapi serta diselesaikan dengan bijak, sabar, dan bertawakal kepada Allah, maka hamba tersebut adalah orang beruntung yang menyelesaikan ujian dari Allah dengan predikat “lulus”. Allah berjanji bahwa saat hambanya menghadapi permasalahan dengan keimanan sehingga ia lulus dari ujian tersebut, maka Allah naikkan derajatnya sebagai seorang yang bertakwa.
Saat manusia menyandarkan segala sesuatunya kepada makhluk atau benda yang akan didapat hanyalah ketidak sempurnaan serta kekecewaan. Bisa jadi di awal dia akan mendapat keuntungan tetapi itu hanya kesenangan sesaat. Namun bila kita menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah, maka ketentraman dan kebahagiaan sejati yang akan kita dapat. Karena Allah Maha Sempurna lagi Maha Penguasa setiap makhluk. Menyandarkan hidup hanya kepada Allah adalah solusi dalam menghadapi segala cobaan dan permasalahan kehidupan.

Oleh karena itu mari pahami terlebih dahulu makna syahadat kita: Kosongkan dulu semuanya, hilangkan kepercayaan anda terhadap apapun, siapapun. Kosongkan terhadap segala kepercayaan yang palsu dan semu. La Ilaha ILALLAH!!!!!! Tiada Tuhan Yang Disembah Selain Allah Ta’ala!!!! Langkah pertama, meniadakan seluruh sesembabahan kepada apa saja selain Allah, Setelah itu tanamkan dan benamkan seluruh keadaran dan hati anda bahwa sesungguhnya yang satu-satunya perlu diyakini keberadaan dan eksistensinya nya hanya Allah semata. Tiada ibadah yang harus dipersembahkan melainkan untuk Allah semata. Tiada yang perlu dituju kecuali menuju Allah semata.
Dengan demikian, manusia yang beriman tidak akan pernah dan tidak akan mau menerima uang SOGOKAN. Dia akan meyakini bahwa rezeki didapat bukan dengan cara-cara seperti itu. Dia akan mencontoh keyakinan seekor semut seperti cerita diatas. Dan jangan sampai iman manusia dikalahkan oleh iman seekor semut!
Dan Janganlah kalian terlalu cepat mengambil keputusan dan persangkaan sebelum kamu mempelajarinya terlebih dahulu dan mendengar penjelasan dari pihak pihak yang terkait.
Semoga Bermanfaat.
Allahu Ta’ala A’lam

[+/-] Lengkapnya...

Film Penistaan Nabi Muhammad Mengantarkan ‘Mr. Bean’ Masuk Islam

Alhamdulillah, segala makar yang dibangun kaum Islamphobia justru mengantarkan Mr. Bean pada hidayah dan masuk Islam.
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ali-Imran: 54)
Beberapa jaringan situs berita di jejaring sosial dan situs-situs lain pada hari Selasa (01/10/13) berbagi berita tentang keislaman komedian internasional Rowan Atkinson atau yang lebih dikenal Mr. Bean.
Pelawak terkenal Mr.Bean mengejutkan dunia keartisan dengan mengumumkan bahwa ia telah masuk Islam.
Situs Shada Biladi mengutip perkataan Mr.Bean yang menjelaskan bahwa film yang melecehkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan alasan utama yang mendorong dia untuk mengetahui Islam. Tanpa ragu, Mr Bean di channel media mengangkat satu jari mengisyaratkan syahadat.
Masih menurut situs itu, Syaikh Rasyid Al-Ghannushi mengirimkan pesan ucapan selamat kepada Mr Bean dan mendoakannya agar tetap istiqomah di atas kebenaran. Sebelumnya Syaikh Al-Ghannushi memiliki hubungan dengan Mr Bean di London.
Film yang melecehkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan alasan utama yang mendorong dia untuk mengetahui Islam. Tanpa ragu, Mr Bean di channel media mengangkat satu jari mengisyaratkan syahadat.
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (Ash-Shaaf 8)

Profil Rowan Sebastian Atkinson
Rowan lahir 6 Januari 1955, ia adalah seorang pelawak, pemeran, dan penulis Inggris, terkenal karena film seri televisi Blackadder dan Mr. Bean. Menurut The Observer, ia adalah salah satu dari 50 orang terlucu di Inggris. Ia dilahirkan di Consett, County Durham pada 1955dari keluarga Eric Atkinson, seorang petani dan direktur perusahaan, dan istrinya Ella May (née Bambridge). Kakaknya adalah politikus Rodney Atkinson.
Ia bersekolah di Durham Choristers School, kemudian St Bees School, dan mempelajari teknik elektro di Newcastle University. Ketika di sekolah, ia sekelas dengan mantan perdana menteri Tony Blair. Ia kemudian meraih gelar M.Sc. dari Queens College, Oxford.

Siapa Syeikh Rashid?
Syeikh Rashid adalah seorang ulama pejuang dan revolusioner Tunisia. Pengaruh pemikiran Sayyid Qutb dan Hasan al-Banna, membuatnya bersama Omar al-Bashir, Presiden Sudan menjadi dua tokoh Ikhwanul Muslimin di utara Afrika dan Tunisia.
SYEIKH Rashid al-Ghannushi disebut-sebut sebagai sahabat yang membuat Rowan Atkinson atau lebih dikenal dengan sebutan Mr Bean.
Syeikh Rashid adalah seorang ulama di Tunisia dan pengikut Ikhwanul muslimin dan satu pemikiran dengan Sayyid Qutb dan Hasan al-Banna
Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Al-Anfaal: 30)

[+/-] Lengkapnya...

Kisah Umat Terdahulu, Pompeii Kisah Tragis Kota Perzinahan Yang Dikutuk

Kota pompiii terletak digaris laut Mediterania, dekat kota Naples (Neapolis) di Italias Selatan. Pompeii adalah kota besar dan ramai semasa pemerintahan Kaisar Romawi Neron. Kota ini termasuk daerah koloni orang-orang Romawi, yang dihuni oleh 20.000 jiwa, 40% dari mereka adalah kalangan budak. Pompeii menjadi kota yang makmur dari tempat pesiar di musim panas yang dilengkapi villa-villa, kuil atau candi, gedung-gedung teater atau pertunjukan, pemandian dan arena laga (colisium/colesseum).
Sekrang ini, tidak ada yang tersisa dari kota ini selain berkas peninggalan kuno. Pompeii terletak di bawah gunung berapi Vasuvius yang memiliki ketinggian 1.200 m dari permukaan laut. Kota pompeii hancur akibat ledakan hebat gunung Vasuvius, ledakan super dahsyat yang mengubur kota Pompeii dan kota Herkulaneum.
Letusan gunung mulai memuntahan lava panas pada siang hari, 24 Agustus 79 M ( 491 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad), yang mnyebabkan awan asap berlapis-lapis bagaikan pohon Shanbir yang menutup matahari, metubah siang menjadi gelap yang berkepanjangan. Penduduk kota Pompeii berusaha lari dan mengurung diri di dalam rumah untuk menyelamatkan diri, akan tetapi tidak ada gunanya. Hari itu adalah hari raya dewa api dalam keyakinan Romawi. (subhannallah ‘ amma yusyrikun)

Kota pompeii terkubur lava panas dan material gunung selama 1668 tahun hingga ditemukan pada tahun 1748 M, yaitu bersamaan ditemukannya kota Herkulaneum (herculaneum). Dari penemuan itu berhasil ditemukan korban meninggal dalam keadaan utuh tanpa ada kerusakan bahkan hingga gigi mereka (tetap utuh). Mimik muka yang menyatukan semua korban adalah rasa takut dan rasa terbelalak. Pada satu tempat ditemukan mayat-mayat yang keras membatu. Karena debu-debu lahar yang beracun yang bisa kita anggap sebagai alami-masuk kebagian dalam tubuh yang basah, sehingga menjaga bentuk dan rupa manusia serta binatang sebagaimana adanya.

Dari penemuan ini terungkap bagaimana krakteristik kota yang kaya serta kemakumuran yang dirasakan oleh masyaraktnya pada waktu itu. Banyak orang kaya yang hidup mewah bangga dengan kekayaan mereka. Dikota ini terdapat jaringan (instalasi)air di dalam rumah , kamar mandi umum dan jalan-jalan yang tersusun rapi dengan batu-batu, ada juga pelabuhan laut yang cangih, begitu pula panggung-panggung sandiwara , dan pasar-pasar. Sisa dan jejak peninggalan mereka menunjukkan perhatian mereka terhadap seni dan ukiran (pahatan), dan masyarakat penghuni kota ini adalah warga Romawi kuno dengan semua tingkatan dan status sosial yang termasuk budak.

Maksiat Yang Merebak Di dalam sejarahnya, para penduduk kota Pompeii gemar dan paling nomor satu dalam hal maksiat. Mereka sering menggelar perzinaan di rumah – rumah mereka, di jalan – jalan, bahkan hampir setiap rumah adalah rumah pelacuran. Banyak juga para pendatang dari Yunani dan Venesia yang ‘menikmati’ wanita – wanita disana, berhubung kota itu juga menjadi pelabuhan yang aman oleh para pelaut. Suatu pertanda bahwa masyarakat itu (Pompeii) adalah masyarakat yang rendah, bahkan lebih rendah dari binatang.

Sebelum kota ini hancur terkubur, masyarakat diwaktu itu tidak menggubris tanda-tanda akan terjadinya letusan gunung. Mereka tidak ambil dengan goncangan-goncangan kecil manapun goncangan kuat., tidak pula terhadap awan putih yang menggumpal di atas kawah gunung. Manusia disaat itu tidak belajar dari gempa bumi yang pernah menghancurkan kota mereka 17 tahun sebelumnya. Mereka tidak mengubris seruan kaisar Romawi, Neuron supaya meninggalkan kota. Berangkali alasan mereka adalah mereka memandang letusan gunung berpai membawa banyak kebaikan. Debu yang dibawa sangat kaya dengan bahan mineral yang bisa menjadi pupuk bagi tanaman mereka sehinga berbuah lebat. Air hujan yang turun kepada mereka dan mengairi tanaman yang disebabkan adanya gunung berapi tersebut yang selalu mendatangkan awan. Banyak tanda dan alamt akan terjadi letusan hebat. Beberpa hari sebelumnya terjadi goncangan hebat (gempa bumi) yang mengerikan sebagian sumur, juga mematikan sumber-sumber mata air, sementara anjing-anjing menggonggong sedih atas diamnya burung-burung.

Semua tanda itu tidak di indahkan oleh penduduk kota hingga di waktu dhuha, sementara mereka sibuk berdagang dan canda tawa, ditengah hari tanggal 24 Agustus 79 M, manusia mendengar hiruk pikuk yang menghebohkan, batu-batu besar terbelah, disusul lahar panas, asap, debu yang terbang tinggi mengarah kelangit kemudian setengah jam berikutnya semuanya jatuh menimpa kepala penduduk kota Ponpeii. Sebagian dari mereka berhasil meyelamatkan diri ke pelabuhan, dan yang lain bersembunyi dirumah-rumah dan gedung. Setelah itu mereka semua berubah menjadi mayat yang membatu. Pada penggalian jejak kota ini ditemukan kurang lebih 2000 mayat. Banyak dari mereka tergencat bebatuan yang berjatuhan menimpa atap-atap rumah dan gedung.

Beberapa jam kemudian, lahar panas yang berlimpah ruah mengubur kota tersebut dan membumihanguskan semua bentk tanda-tanda kehidupan di sana. Akhirnya kota tersebut terkubur hingga 3 meter oleh lahar panas dan debu. Setelah kejadian semburan batu panas dari Gunung Vesuvius, maka banyak ditemukan mayat – mayat bergelimpangan, dan banyak pula yang mati sedang melakukan maksiat (zina), ada juga yang melakukannya dengan sejenis dan bahkan diketahui ada yang masih berusia belia. Na’udzubiLLahi min dzalik.

Mirip memang dengan peristiwa kaum Luth –‘alayhis salaam- (kaum
penghuni kota Sodom) yang Alloh luluhlantahkan dengan hujan batu.
“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
Atau apakah penduduk mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga)/ tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”*(QS. Al-A’raf :96-99)
Allah membinasakan penduduk kota Romawi, Pompeii, karena mereka berbuat aniaya dimuka bumi dan banyak merusak disetiap lini kehidupan. Diantara mereka senang mengadakan pertunjukan pertarungan antara manusia dengan manusia atau dengan binatang buas, yang berakhir hingga matinya salah satu peserta laga.

Sumber : Majalh Qiblati edisi 09

[+/-] Lengkapnya...

View Visitors

free counters

Kotak Sms

Make Widget
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia